Arch compared to other distributions (Indonesia)

From ArchWiki
Revision as of 05:58, 16 March 2010 by Dani (Talk | contribs) (Ubuntu)

Jump to: navigation, search

This template has only maintenance purposes. For linking to local translations please use interlanguage links, see Help:i18n#Interlanguage links.


Local languages: Català – Dansk – English – Español – Esperanto – Hrvatski – Indonesia – Italiano – Lietuviškai – Magyar – Nederlands – Norsk Bokmål – Polski – Português – Slovenský – Česky – Ελληνικά – Български – Русский – Српски – Українська – עברית – العربية – ไทย – 日本語 – 正體中文 – 简体中文 – 한국어


External languages (all articles in these languages should be moved to the external wiki): Deutsch – Français – Română – Suomi – Svenska – Tiếng Việt – Türkçe – فارسی

Summary help replacing me
A brief comparison of Arch Linux with other popular GNU/Linux distributions and BSDs.
Related articles
Arch Linux
The Arch Way
External links
DistroWatch.com

Halaman ini mencoba menggambarkan perbandingan antara Linux Arch dengan distribusi GNU/Linux dan sistem operasi menyerupai UNIX populer lainnya. Ringkasan berikut berupa deskripsi sngkat yang akan membantu kamu memutuskan apakah Linux Arch akan memenuhi kebutuhan kalian. Meskipun review dan deskripsi dapat bermanfaat, pengalaman mencoba langsung adalah cara terbaik untuk membandingkan tiap distribusi.

Source-based (Berbasis kode sumber)

Distro yang berbasis kode sumber sangat portabel, memberi keuntungan dalam mengontrol dan mengompilasi keseluruhan sistem operasi dan aplikasi-aplikasinya untuk sebagian arsitektur mesin dan skema pemakaian, dengan kerugian butuh sejumlah waktu saat kompilasi kode sumber, hal yang alami terjadi. Basis dan keseluruhan paket Arch dikompilasi untuk arsitektur i686 dan x86_64, menawarkan peningkatan performa yang potensial diantara distro berbasis binari i386/i486/i586, dengan tambahan keuntungan instalasi yang fleksibel/expedient.

Gentoo

Baik Linux Arch dan Linux Gentoo, keduanya memakai sistem rolling release, yang berarti bahwa paket-paket tersedia bagi distribusi dalam waktu yang singkat setelah pengembang merilis versi vanilanya. Paket Gentoo dibangun dari kode sumber secara langsung sedangkan paket Arch berupa binari pre-built. Ini membuat sistem Linux Arch lebih cepat dibangun dan dimutakhirkan, dan membuat Linux Gentoo menjadi lebih siap dikustomisasi. Arch mendukung i686 dan x86_64 sedangkan Gentoo mendukung arsitektur x86, ppc, sparc, alpha, amd64, arm, mips, hppa, s390, sh, dan itanium. Karena kedua instalasi Gentoo dan Arch hanya memasang sistem dasar, keduanya disebut sangat mudah dikustomisasi. Pengguna Gentoo akan merasa nyaman dengan sebagian besar aspek Arch.

Sorcerer/Lunar-Linux/Source Mage

Sorcerer/Lunar-Linux/Source Mage (SLS) adalah distro-distro yang semuanya berbasis kode sumber, banyak serupa dengan Gentoo, tetapi aslinya saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Distro SLS memakai suatu set berkas skrip sederhana untuk membuat deskripsi-deskripsi paket, dan menggunakan berkas konfigurasi global untuk mengonfigurasikan proses kompilasi, serupa seperti Arch Build System. Perangkat-perangkat SLS melakukan pengecekan dependensi seutuhnya (termasuk menangani fitur-fitur opsional) dan penelusuran paket (dan uninstalling/upgrading). Tidak tersedia paket-paket binari untuk tiap keluarga SLS, meskipun mereka semua bisa roll back kembali ke paket-paket yang terpasang dengan mudah.

Instalasi melibatkan pemasangan sistem dasar (seperti Arch: dioptimasi untuk i686, CLI dan menu ncurses, hanya perangkat-perangkat utama), lalu dilanjutkan dengan merekompilasi sistem dasar (sesuai pilihan). Tidak ada WM/DE/DM standar, dan Xorg tidak termasuk dalam instalasi dasar. Beberapa alternatif server X tersedia (X.Org 6.8 atau 7, XFree86).

SLS memiliki riwayat yang sangat komplikatif. Mungkin tulisan terbaik tentang hal itu dapat ditemukan di the SourceMage wiki.

Minimalis

Distro-distro minimalis tepat dibandingkan dengan Arch, memiliki beberapa kesamaan. Semuanya bisa disebut sederhana/simple dari sudut pandang teknis.

LFS

LFS, (atau Linux From Scratch) berupa sebagai dokumentasi. Buku tersebut menginstruksikan pengguna bagaimana mewujudkan suatu set paket dasar yang minimal untuk suatu sistem GNU/Linux yang fungsional, serta bagaimana mengompilasi dan mengonfigurasikan secara manual dari scratch. LFS adalah seminimal yang didapatkan, serta menawarkan suatu proses edukasi dan kebaikan dari penyusunan sebuah sistem dasar. Arch menyediakan paket-paket yang sangat serupa, plus init ala BSD, sedikit perangkat ekstra dan pengelola paket pacman yang penuh fungsi sebagai sistem dasar, sudah dikompilasi untuk i686/x86-64. LFS tidak menyediakan repositori daring (dalam jaringan/online); kode sumber diperoleh manual, dikompilasi dan di-install dengan make. (Beberapa metode manual pengelolaan paket tersedia, seperti disebutkan di LFS Hints) Bersama dengan sistem dasar Arch minimal, komunitas Arch dan pengembang menyediakan dan memelihara ratusan paket binari yang siap dipasang via pacman dan skrip PKGBUILD untuk digunakan dalam Arch Build System. Arch juga memasukkan perangkat makepkg untuk memudahkan penyusunan dan kustomisasi paket Template:Filename, siap dipasang oleh pacman. Judd Vinet membangun Arch dari scratch, lalu menulisnya di C. Dulu, Arch kadang dideskripsikan dengan lelucon Linux, with a nice package manager (Linux, dengan pengelola paket yang baik).

CRUX

Arch dikembangkan independen, dibangun dari scratch dan tidak berbasis distribusi GNU/Linux manapun. Sebelum membuat Arch, Judd Vinet lebih memilih dan memakai CRUX, sebuah distro minimalis yang dibuat oleh Per Lidén. Diinspirasi secara alami dari ide-ide bersama CRUX, Arch dibangun dari scratch, dan pacman lalu ditulis dengan bahasa C. Keduanya memiliki beberapa prinsip panduan: singkatnya, keduanya dioptimasi untuk arsitektur tertentu, minimalis dan berorientasi K.I.S.S. Keduanya menerapkan sistem menyerupai ports, memakai sistem init ala *BSD, dan seperti juga *BSD, keduanya menyediakan lingkungan dasar yang minimal untuk dibangun kemudian. Arch memiliki pacman, yang menangani pengelolaan paket sistem binari dan berfungsi baik dengan Arch Build System. CRUX memakai sistem kontribusi komunitas yang disebut prt-get, yang dikombinasikan dengan sistem ports mereka sendiri, menangani masalah dependensi, tetapi menyusun semua paket dari kode sumber (meskipun instalasi dasar CRUX adalah binari i686). Arch mendukung x86-64 dan i686 secara resmi, sedangkan CRUX hanya i686.

Arch memakai sistem rolling-release dan memiliki repositori paket binari di Arch User Repository. CRUX menyediakan lebih sedikit paket yang didukung resmi oleh sistem ports selain repositori komunitas.

Slackware

Si perkasa Slackware dan Arch nampak serupa. Dalam hal keduanya adalah distribusi yang sederhana. Terfokus pada eleganisme dan minimalisme. Slackware terkenal karena sifat generik/non-branding dan sepenuhnya memakai paket-paket vanilla/asli versi pengembang, termasuk kernel. Arch umumnya hanya menambal untuk menghindari ketidaksinkronan dan menjaga fungsionalitas, jika memang diperlukan. Keduanya memakai skrip init ala BSD. Arch menyediakan sistem manajemen paket via pacman, yang mana tidak serupa dengan perangkat standar Slackware, menawarkan resolusi dependensi otomatis dan memungkinkan pemutakhiran sistem otomatis. Para pengguna Slackware umumnya lebih menyukai metode resolusi dependensi manual, menyesuaikan dengan level kontrol sistem yang ada di tangan mereka. Arch bersistem rolling release. Slackware lebih konservatif dalam siklus rilis, lebih mengutamakan paket yang terbukti stabil. Arch lebih bleeding edge dalam hal ini. Arch menawarkan Arch Build System, sebuah sistem menyerupai ports yang aktual. Sistem (unofficial) Slackbuild sangat serupa dengan konsep Arch User Repository. Para pengguna Slackware umumnya akan merasa nyaman dengan banyak aspek di Arch.

Grafikal

Kadang disebut distro newbie, distro berbasis grafis memiliki banyak kesamaan, meskipun Arch agak berbeda darinya. Arch mungkin menjadi pilihan yang baik jika kamu ingin mempelajari GNU/Linux dengan membangunnya dari sistem dasar yang sangat minimal, sebagai perbandingan instalasi Arch memasang sangat sedikit paket. Distro berbasis grafis mengutamakan penyertaan installer GUI (seperti Anaconda milik Fedora) dan perangkat konfigurasi sistem GUI (seperti YaST-nya SUSE). Perbedaan spesifik antar distro dijelaskan di bawah.

Sometimes called "newbie" distros, the graphical distros share a lot of similarities, though Arch is quite different from them. Arch may be a better choice if you want to learn about GNU/Linux by building up from a very minimal base, as an installation of Arch installs very few packages in comparison. Graphical distros tend to ship with GUI installers (like Fedora's Anaconda) and GUI system-configuration tools (like SUSE's YaST). Specific differences between distros are described below.

Ubuntu

Ubuntu adalah sebuah distro besar berbasis Debian yang populer disponsori oleh Canonical Ltd. secara komersial, sedangkan Arch adalah sistem yang dikembangkan independen dari scratch. Kedua proyek memiliki tujuan yang berbeda dan ditargetkan untuk basis pengguna yang berlainan. Arch didesain bagi pengguna yang berkeyakinan untuk mampu menerima pendekatan do-it-yourself, sedangkan Ubuntu menyediakan sistem yang mampu melakukan autokonfigurasi yang lebih menekankan distribusi untuk semua. Jika kamu ingin menyelesaikan sesuatu dengan lebih cepat dan tidak ingin berkutat dengan keruwetan sistem, Ubuntu lebih cocok. Arch disajikan sebagai desain minimalis dari awal instalasi, memberi seluruh kuasa pada pengguna untuk melakukan kustomisasi agar sesuai dengan keinginan spesifik pengguna itu sendiri. Umumnya, para pengembang dan pengoprek akan lebih menyukai Arch dibanding Ubuntu, meskipun beberapa pengguna Arch mengklaim memulai dari Ubuntu dan akhirnya bermigrasi ke Arch. Ubuntu memiliki siklus rilis tiap 6 bulan, sedangkan Arch adalah sebuah sistem rolling release. Arch menawarkan sistem paket menyerupai ports, disebut Arch Build System, sedangkan Ubuntu tidak. Kedua komunitas memiliki perbedaan di beberapa hal. Komunitas Arch jauh lebih kecil dan sangat proaktif; sebuah persentase yang besar berkontribusi ke distro. Sebaliknya, komunitas Ubuntu cukup besar dan oleh karenanya dapat ditoleransi banyaknya persentase jumlah pengguna yang tidak berkontribusi pada pengembangan, paket atau pemeliharaan.

Fedora

Fedora is a spin-off from the Red Hat distribution and has continually been one of the most popular distributions to date. As such, there is a massive community and lots of pre-built packages and support available. Fedora packages are RPM-based, using YUM as its package manager. Arch uses pacman to manage Template:Filename packages. Fedora famously doesn't attempt to support the MP3 media format due to perceived patent issues. Arch is more lenient in its disposition toward MP3 and other media. Fedora offers both a graphical and a text installer. Arch does not offer a graphical installer, but rather, uses an ncurses-based installer, relying more on the user for manual configuration. Fedora has a scheduled release cycle. Arch is a rolling-release system. The Arch design approach is geared more toward lightweight elegance and minimalism rather than automation/auto-configuration. Fedora does innovate and recently earned much community recognition for integration of SELinux and GCJ compiled packages to remove the need for Sun's JRE. Fedora supports neither JFS nor ReiserFS out of the box.

Mandriva

Linux Mandriva (awalnya Linux Mandrake) lahir tahun 1998 dengan tujuan membuat GNU/Linux mudah bagi siapa saja. Berbasis RPM dan paket manajer urpmi. Lagi, Arch memilih pendekatan yang lebih sederhana, berbasis teks dan lebih mengandalkan konfigurasi manual dan lebih ditujukan ke pengguna tingkat menengah ke atas.

SUSE

SUSE mengemuka terkait perangkat konfigurasi yang sangat baik, YaST, yang merupakan one-stop shop bagi semua kebutuhan pengguna. Arch tidak menawarkan fasilitas serupa karena bertentangan dengan The Arch Way. SUSE, oleh karenanya, lebih luas disarankan karena lebih cocok bagi pengguna yang kurang berpengalaman, atau bagi mereka yang menginginkan lingkungan berbasis GUI, konfigurasi otomatis dan diharapkan berfungsi langsung/out of the box.

PCLinuxOS

PCLinuxOS (PCLOS) adalah sebuah distro populer yang berbasis Mandriva menyediakan sebuah lingkungan desktop yang komplit, didesain untuk ramah pengguna dan dideskripsikan sebagai sederhana/simple, yang mana definisi simple tersebut berbeda dengan definisi yang Arch pakai. Arch didesain sebagai sistem dasar yang dikustomasi dari dasar dan ditujukan lebih kepada para pengguna tingkat lanjut. Pengguna PCLOS memakai pengelola paket apt sebagai pelengkap paket-paket RPM. Arch memakai pengelola paket pacman yang dikembangkan sendiri dengan paket-paket Template:Filename. PCLOS sangat kental nuansa GUI-nya, menyediakan perangkat konfigurasi perangkat keras/hardware dan antarmuka pengelola paket Synaptic, dan diklaim memiliki sedikit atau bahkan tanpa perlu memakai terminal/console lagi. Arch berorientasi command-line dan didesain dengan pendekatan yang lebih sederhana untuk konfigurasi sistem, pengelolaan dan pemeliharaan. PCLOS merekomendasikan RAM 256MB sebagai bagian kebutuhan sistem minimal. Untuk menjadi ringan/lightweight', Arch dapat berjalan di atas sistem dengan memori rendah, memerlukan RAM hanya 64MB untuk memasang sistem dasar i686, dan berjalan sangat lancar di atas sistem yang lebih modern.

The *BSDs

Both Arch and *BSD offer a tightly-integrated base and ports system combined with available binary packages. The BSDs derive from Berkeley UNIX. Therefore, *BSDs are not GNU/Linux distros, but rather, UNIX-like OS's.

FreeBSD

Both Arch and FreeBSD offer software which can be obtained using binaries or compiled using 'ports' systems. Both share a very similar init system. FreeBSD boasts that it is more of a system designed as a whole, compared to GNU/Linux distros, with each application 'ported' over to FreeBSD and made sure to work in the process. Both use Template:Filename as a main configuration file. The FreeBSD license is generally more protective of the coder, compared to the GPL, which in contrast favors protection of the code itself. Arch is released under the GPL. In FreeBSD, like Arch, decisions are delegated to you, the power user. This may be the most interesting comparison to Arch since it goes head-to-head in package modernity and has a somewhat sizable, smart, active, no-nonsense community. Both systems share many similarities and FreeBSD users will generally feel quite comfortable with most aspects of Arch.

NetBSD

NetBSD is a free, secure, and highly portable UNIX-like open-source operating system available for over 50 platforms, from 64-bit Opteron machines and desktop systems to hand-held and embedded devices. Its clean design and advanced features make it excellent in both production and research environments, and it is user-supported with complete source. Many applications are easily available through pkgsrc, the NetBSD Packages Collection. Arch may not operate on the vast number of devices NetBSD operates on, but for an i686 system it may offer more applications. Also, the default installation method in pkgsrc is to pull and compile sources whereas Arch offers binary packages. Arch does share many similarities with NetBSD; both use Template:Filename as the primary configuration file, they are very minimalist and lightweight, they both offer ports systems as well as binaries and both have active, no-nonsense developers and communities. Arch also borrows from *BSD for its init system concepts.

OpenBSD

The OpenBSD project produces a free, multi-platform 4.4BSD-based UNIX-like operating system. Efforts focus on portability, standardization, code correctness, proactive security, and integrated cryptography. In contrast, Arch focuses more on simplicity, elegance, minimalism and bleeding edge software. OpenBSD supports binary emulation of most programs from SVR4 (Solaris), FreeBSD, GNU/Linux, BSD/OS, SunOS and HP-UX. OpenBSD is self-described as 'perhaps the #1 security OS'.

In common with Arch, OpenBSD offers a small, elegant, base install and uses a ports system and packaging systems to allow for easy installation and management of programs which are not part of the base operating system. In contrast to a GNU/Linux system like Arch, but in common with most other BSD-based operating systems, the OpenBSD kernel and userland programs, such as the shell and common tools (like ls, cp, cat and ps), are developed together in a single source repository.

Other

These OS's fall into the 'other' category.

Debian GNU/Linux

Debian is a much larger project and community and features stable, testing, and unstable branches, offering over 20,000 binary packages. Arch does not 'split' their packages into "-dev" and "-common" as Debian does, therefore, Arch repositories will seem much smaller. Debian has a more vehement stance on free software. Arch is more lenient when it comes to 'non-free' packages as defined by GNU. Debian's design approach focuses more on stability and stringent testing. Arch is focused more on the philosophy of simplicity, minimalism, and offering bleeding edge software. Arch packages are more current than Debian Stable and Testing, typically being about equal with Debian unstable. Both Debian and Arch offer well-regarded package management systems. Arch is a rolling release, whereas Debian Stable is released with "frozen" packages. Debian is available for many architectures, including alpha, arm, hppa, i386, x86_64, ia64, m68k, mips, mipsel, powerpc, s390, and sparc, whereas Arch is i686 and x86_64 only. Arch provides more expedient support for building custom, installable packages from outside sources, with a ports-like package build system. Debian does not offer a ports system, relying instead on its huge binary repositories. The Arch installation system only offers a minimal base, transparently exposed during system configuration, whereas Debian's methods offer a more automatically configured approach as well as several alternative methods of installation. Debian utilizes the SysVinit, whereas Arch uses a simpler *BSD-style init.

Frugalware

Arch berorientasi berbasis teks dan command-line. Frugalware mengadopsi pacman milik Arch sebagai pengelola paket, tetapi memakai bzipped tarballs. Sebaliknya, Arch memakai gzipped tarballs, dengan tujuan memudahkan instalasi. Frugalware pada dasarnya tidak mendukung sistem berkas JFS. Frugalware tidak lagi berbasis Slackware tetapi lebih sebagai distro tersendiri, dan dipromosikan sebagai sebuah distro i686. Arch dasarnya adalah sistem yang berbeda, diinstal sebagai lingkungan dasar yang minimal dan diperlengkap dengan pacman sesuai kebutuhan dan pilihan penggunanya. Frugalware diinstal dari DVD, dengan pilihan perangkat lunak dan lingkungan desktop yang sudah tersedia bagi pengguna. Frugalware memiliki siklus rilis terjadwal. Lagi, Arch lebih fokus pada kesederhanaan, minimalisme, kesesuaian kode dan kemutakhiran dengan model rolling-release.