The Arch Way (Indonesia)

From ArchWiki
Revision as of 14:17, 17 January 2010 by Rametux (Talk | contribs) (Code-correctness over convenience)

Jump to: navigation, search

This template has only maintenance purposes. For linking to local translations please use interlanguage links, see Help:i18n#Interlanguage links.


Local languages: Català – Dansk – English – Español – Esperanto – Hrvatski – Indonesia – Italiano – Lietuviškai – Magyar – Nederlands – Norsk Bokmål – Polski – Português – Slovenský – Česky – Ελληνικά – Български – Русский – Српски – Українська – עברית – العربية – ไทย – 日本語 – 正體中文 – 简体中文 – 한국어


External languages (all articles in these languages should be moved to the external wiki): Deutsch – Français – Română – Suomi – Svenska – Tiếng Việt – Türkçe – فارسی

Berikut ini lima prinsip utama yang biasaya disebut sebagai Arch Way, atau Filosofi Arch, boleh jadi teringkas paling baik dalam istilah KISS untuk Keep It Simple, Stupid.

Kesederhanaan

"Kesederhanaan adalah kepuasan tertinggi." -Leonardo Da Vinci

Kesederhanaan merupakan mutlak tujuan utama di balik pengembangan Arch. Banyak distribusi GNU/Linux menyatakan diri mereka "sederhana". Akan tetapi, kesederhanaan itu sendiri memiliki banyak definisi.

Arch Linux mendefinisikan kesederhanaan sebagai 'tanpa tambahan yang tidak perlu, modifikasi, atau komplikasi', dan menyediakan struktur dasar UNIX-like yang ringan yang memungkinkan seorang pengguna untuk membentuk sendiri sistemnya sesuai dengan kebutuhan. Singkatnya; elegan, pendekatan minimalis.

Struktur dasar yang ringan dibangun dengan standar tinggi pemrograman akan cenderung memiliki tuntutan sumber daya sistem yang lebih rendah. Sistem dasar meniadakan semua kekacauan yang mungkin mengaburkan bagian-bagian yang penting dari sistem, atau membuat aksesnya lebih sulit atau kusut. Sistem ini memiliki seperangkat komentar ringkas yang efisien, berkas konfigurasi yang rapi yang disusun untuk akses cepat dan penyuntingan, tanpa alat konfigurasi grafis yang tidak praktis yang bertujuan untuk menyembunyikan segala kemungkinan yang ada dari pengguna. Sistem Arch Linux merupakan sebuah sistem yang siap dikonfigurasikan sampai detil terdalam.

Kompleksitas tanpa Komplikasi.

Arch Linux menjaga kompleksitas inheren dengan sistem GNU/Linux yang utuh, sambil menjaganya tetap terorganisir dan transparan. Pengembang Arch Linux dan penggunanya yakin bahwa menyembunyikan kompleksitas dari sebuah sistem justru menghasilkan sistem yang lebih kommpleks lagi, dan oleh karena itu harus dihindari.

Kebenaran-kode diatas kemudahan

Sistem Arch Linux mendahulukan desain yang elegan serta bersih, kode sederhana, dari pada tambalan yang tidak diperlukan, otomatisasi, jajanan mata atau "newbie-friendliness". Penambalan perangkat lunak tetap ada dengan jumlah seminimum mungkin-- idealnya, tidak ada. Implementasi sederhana akan selalu mengalahkan interface pengguna sederhana.

Kesederhanaan implementasi, keanggunan-kode, dan minimalisme akan selalu tetap menjadi prioritas utama pengembangan Arch.

Konsep, desain, dan fitur-fitur dihasilkan dan diimplementasikan dengan menggunakan prinsip-prinsip Arch Way sebagai panduan, daripada tunduk pada pengaruh eksternal. Tim pengembangan teguh dengan komitmen dan dedikasi mereka terhadap filosofi Arch Way. Jika kita memiliki kesamaan visi, maka anda kami sambut dan kami dorong untuk menggunakan Arch.

User-centric

Whereas many GNU/Linux distributions attempt to be more 'user-friendly', Arch Linux has always been, and will always remain 'user-centric'.

Arch Linux targets and accommodates competent GNU/Linux users by giving them complete control and responsibility over the system.

Arch Linux users fully manage the system on their own. The system itself will offer little assistance, except for a simple set of maintenance tools that are designed to perfectly relay the user's commands to the system.

This user-centric design necessarily implies a certain “do-it-yourself” approach to using the Arch distribution. Rather than pursuing assistance or requesting a new feature to be implemented by developers, Arch Linux users have a tendency to solve problems themselves and share the results with the community and development team -- a "Do first, then ask" philosophy. This is especially true for user-contributed packages found in the Arch User Repository -- the official Arch Linux repository for community-maintained packages.

Openness

Openness goes hand in hand with simplicity, and is also one of the guiding principles of Arch Linux development.

Arch Linux uses simple tools, that are selected or built with openness of the sources and their output in mind.

Openness removes all boundaries and abstraction between the user and the system, providing more control, while simultaneously simplifying system maintenance.

The open nature of Arch Linux also implies a fairly steep learning curve, but experienced Arch Linux users tend to find other more closed systems much more inconvenient to control.

The Openness principle extends to its community members as well. Arch Linux users are known to be very open with help and advice, as well as with package contributions to the community maintained Arch User Repository.

Freedom

Another guiding principle of Arch Linux development is freedom. The users are not only permitted to make all decisions concerning system configuration, but also get to choose what their system will *be*.

By keeping the system simple, Arch Linux provides the freedom to make any choice about the system.

A freshly installed Arch Linux system contains only basic core components with no automatic configuration performed. Users are able to configure the system as they wish, from the shell. From the start of the installation procedure, every component of the system is 100% transparent and accessible for instant access, removal, or replacement by alternative components.

The large number of packages and build scripts in the various Arch Linux repositories also support freedom of choice, offering free and open source software for those who prefer it, as well as proprietary software packages, for those who embrace 'functionality over ideology'. It is the user who chooses.

As Judd Vinet, the founder of the Arch Linux project said: "[Arch Linux] is what you make it."

See also

The Arch Way v2.0